Seandainya Sybil System ala Psycho Pass ada di Indonesia

Akhir-akhir ini sejak diberlakukan nya aturan PSBB saya lebih banyak beraktivitas dirumah, baring di kamar, mondar-mandir gak jelas mau nonton Tv pun isinya busuk semua, salah satu alternatif yang saya pilih adalah nonton koleksi anime dilaptop yang dulu download dikampus waktu kuliah hehe maklum anak kost’an.

Salah satu Anime yang kembali menarik perhatian saya adalah Psycho Pass sebuah anime yang bercerita tentang Bagaimana orang-orang di Jepang hidup tanpa kejahatan. Anime ini menceritakan suatu masa, dimana Jepang mengembangkan teknologi yang mampu membaca keadaan mental, kejiwaan, serta kepribadian manusia. Segala aspek kehidupan dan kriminalitas ditentukan melalui perangkat yang dinamakan Psycho-Pass dan terhubung dengan Sybil System.

Sistem yang mengontrol Psycho-Pass barangkali adalah wujud sistem birokrasi ideal. Seperti yang dikatakan oleh Max Weber, “Birokrat sempurna adalah mereka yang melakukan pekerjaan tanpa kemarahan dan kebaikan, tanpa kebencian atau gairah, tanpa cinta ataupun kesenangan pribadi.” Ia adalah sang hakim, yang menentukan segalanya, didasarkan pada “koefisiensi Kejahatan,” yang dapat naik turun dan berbeda untuk tiap Individu.

Setelah nonton anime ini saya jadi kefikiran kira-kira apa yang terjadi jika konsep dari anime ini bisa di terapkan di Indonesia?

Bayangkan saja dijalanan para petugas keamanan kemana-mana bawa Magnum esque atau yang di kenal dengan “dominator gun”(semacam pistol canggih), perangkat yang digunakan untuk mengadili individu dengan koefisien tinggi yang melampaui batas, tidak ada penjara, tidak ada lagi jaksa brengsek yang nuntut seenaknya, dan para pengacara tolol yang cuma bisa bacot depan kamera tidak akan berguna lagi, status kaya miskin tidak akan berpengaruh sama sekali, mungkin orang-orang juga mulai takut nyalon jadi pejabat negara kalau niatnya busuk. 

 (kira-kira seperti ini bentuknya Dominator Gun di dunia nyata)

Tapi saya rasa hal ini tidak akan berhenti disini saja, sebagian besar masyarakat indonesia pada umum nya juga akan terkena dampak langsung, seseorang tanpa catatan kriminal sekalipun bukan lah jaminan, apakah kita bisa yakin kalau diri kita termasuk dalam individu dengan koefisieni yang rendah? Pertayaan seperti ini akan selalu menghantui kita dalam beraktivitas sehari-hari.

Jika boleh jujur alasan saya menulis artikel ini adalah sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap keadaan Birokrasi di Negara kita ini, sebagai orang awam yang tidak memiliki pengaruh apa-apa di mata public menulis adalah satu-satu nya senjata yang saya miliki, miris sekali melihat keadaan hukum kita saat ini, seperti kasus yang menimpa Bapak Novel Baswedan, bertahun-tahun public meminta pihak kepolisian untuk segera menangkap para pelaku and what a fucking suprise ternyata para pelaku nya adalah dua orang polisi aktive dengan alasan bla bla who give a shit.

Dan sekarang bayangkan jika kita di indonesia memiliki Sybil System kedua pelaku tersebut tidak perlu melalaui rangkaian drama persidangan yang korup, hanya perlu todongin dengan Dominator gun and dorr dorr berceceran tuh kepala, hahaha kok jadi sadis gini ya. Tapi apakah tindakan seperti ini sudah adil atau tidak? 

(efek dari tembakan langsung Dominator gun)

Any way Pada akhirnya, kalianlah yang menentukan siapa yang ‘baik’ dan ‘jahat’. Apakah kriminal seperti kedua pelaku diatas atau pihak Keamanan yang bergantung pada kebijaksanaan Sybil System. Oh iyaa balik lagi ke Anime Psycho Pass ini, penonton akan menanyakan kembali makna hal-hal biasa yang dianggap sepele, seperti aktualisasi manusia, kejahatan, kebebasan, dan hal lainnya. Beberapa unsur pemikiran filsafat dan sosial pun diambil untuk menguatkan alur cerita. Namun tak perlu khawatir, anime ini tetap memiliki porsi action yang seimbang, sehingga tidak membosankan untuk di tonton selama wabah Corona ini.