Setiap Franchise Film Yang di Adaptasi dari Game Horor

Setiap Franchise Film Yang di Adaptasi dari Game Horor

Baru-baru ini Resident Evil baru mereboot film mereka dengan judul Resident Evil: Welcome to Raccoon City. Dan kedepannya series baru juga bakalan hadir di Netflix. Ini membuktikan film dari adaptasi game horor mampu tampak abadi, dan memiliki pengemar setia. Meskipun adaptasi tersebut kebanyakan berakhir dengan sebuah ke gagalan.

Dikatakan bahwa setengah dari franchise dalam daftar ini pertama kali dibawa ke layar oleh Uwe Boll. Seorang sutradara yang memiliki hubungan terkenal agresif dengan kritikus yang tak terhitung jumlahnya dari karyanya.

Terlepas dari apakah Resident Evil: Welcome to Raccoon City akan menjadi awal dari era film adaptasi game horor. Mari kita simak artikel kali ini, tentang setiap franchise film horor berdasarkan video game horor.

6. Alone In The Dark

Alone In The Dark Film Adaptasi Game Horor

Alone in The Dark sering disebut sebagai salah satu film horor terburuk yang pernah ada, apalagi ini adalah adaptasi dari game horor. Ditujukan sebagai semi-sekuel dari game keempat dalam seri survival horror, film ini dibintangi oleh Christian Slater sebagai penyelidik paranormal Edward Carnby. Bersama dengan pacar arkeolognya, Aline Cedrac (Tara Reid). Carnby mengungkap bukti bahwa ada makhluk asing di antara artefak yang ditemukan.

Disutradarai oleh Uwe Boll, Alone in the Dark saat ini mendapatkan rating yang sangat rendah, hanya 1% di Rotten Tomatoes dengan 123 ulasan. Dengan efek CGI yang buruk dan skrip yang tidak masuk akal. Boll juga menyertai Reid bintang America Pie sebagai seorang arkeolog, ini tidak dapat dipercaya.

Sekuel dengan anggaran rendah untuk film 2005 dirilis pada 2008, dan Rick Yune menggantikan Slater sebagai Carnby. Meskipun Boll menjabat sebagai produser untuk sekuel Alone in the Dark yang tidak diminta oleh siapa pun, Alone in the Dark 2 disutradarai bersama oleh penulis skenario film aslinya, Michael Roesch dan Peter Scheerer. Sekuelnya melibatkan sihir dan hampir lebih merupakan reboot. Meskipun ada sedikit peningkatan pada film pertamanya, Alone in the Dark 2 masih jauh dari kata bagus.

5. House Of The Dead

House Of The Dead

Dalam sebuah wawancara yang mempromosikan Alone in the Dark, Boll berbicara tentang pelajaran yang dia pelajari dari House of the Dead, seperti bahwa naskahnya tidak bagus. Namun, film tentang mahasiswa yang melarikan diri dari pulau yang dipenuhi zombie ini diterima lebih baik daripada Alone in the Dark, meskipun tidak banyak.

Berdasarkan game arcade first-person shooter tahun 1996, House of the Dead mendapatkan rating 3% dari Rotten Tomatoes. Dengan materi yang mendekati mentalitas film-B, film ini lebih mendekati genre komedi di bandingkan Horor. Bahkan Boll tampaknya merangkul humor yang tidak disengaja dalam film dengan potongan sutradaranya, yang menampilkan beberapa kekurangan mencolok dari film tersebut dan dirilis dalam bentuk DVD sebagai “Versi Lucu.”

Meskipun tidak pernah dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat, House of the Dead 2 ditayangkan perdana di Sci-Fi Channel (sekarang SyFy) pada tahun 2006. Sekuelnya berlangsung beberapa bulan setelah peristiwa film pertama, tetapi satu-satunya aktor yang kembali adalah Ellie Cornell sebagai Petugas Penjaga Pantai Jordan Casper. Sementara kekurangan film pertama memberikan beberapa nilai hiburan yang tidak diinginkan, House of the Dead 2 sama sekali tidak menghasilkan apapun dan sangat membosankan.

4. Bloodrayne

Bloodrayne

Beberapa film horor yang sukses telah membantah kutukan video game, tetapi yang disutradarai oleh Boll cenderung memiliki efek sebaliknya. Dalam upaya lain Boll mengadaptasi video game horor, Bloodrayne didasarkan pada game hack and slash yang dikembangkan oleh Terminal Reality.

Meskipun seri permainan berlangsung tepat sebelum Perang Dunia II, film Boll mengatur aksi di Rumania abad ke-18. Film ini mengikuti Rayne (Kristanna Loken) setengah vampir dan manusia yang ingin balas dendam terhadap ayah vampirnya (Ben Kingsley).

Bloodrayne adalah yang terbaik dari semua adaptasi video game horor oleh Boll. Namun itu bukan pujian yang tinggi, mengingat ini hanya mendapatkan rating 4% dan menerima banyak ulasan buruk saat rilis.

Seperti biasa, film yang digarap oleh Boll selalu memiliki kelanjutan dan itu juga terjadi pada Bloodrayne yang mendapatkan dua sekuel. Protagonis utama Loken digantikan oleh Natassia Malthe untuk sekuelnya. Michael Paré adalah satu-satunya aktor yang muncul di ketiga film, tetapi entah kenapa selalu memainkan peran yang berbeda disetiap film.

Ini sebagian karena kesenjangan waktu yang besar antara narasi, dengan BloodRayne 2: Deliverance berlatar di American Wild West dan BloodRayne: The Third Reich di Eropa selama Perang Dunia II. Butuh tiga film bagi Boll untuk akhirnya membuat film dalam periode yang sama dengan game, tetapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan Franchise.

3. Doom

Doom

Dengan beredarnya tentang adaptasi film dari game first-person shooter terkenal, Doom. Banyak orang yang berharap tinggi akan film yang rilis di tahun 2005 ini. Namun, adaptasi tersebut gagal di box office dan menerima ulasan yang buruk, tapi ada juga sebagian kalangan cukup terhibur dengan adaptasi ini.

Meskipun Doom dikatakan film pasaran seperti sejumlah film horor sci-fi generik yang melibatkan zombie dan makhluk bermutasi lainnya. Namun, ada adengan yang membawa kita ke first-person shooter yang keren dan terasa sangat sempurna dalam menangkap esensi dari apa yang membuat game aslinya sukses.

Pada tahun 2019, franchise ini merilis animasi Doom: Annihilation yang langsung mem-boot ulang franchise dengan tim Marinir baru dalam misi untuk memerangi makhluk seperti iblis. Dalam beberapa hal, Annihilation mendapatkan banyak hal lebih baik daripada Doom 2005. Salah satunya penjelasan yang lebih tepat tentang dari mana ancaman makhluk itu berasal.

Sayangnya, itu juga membuat banyak kesalahan yang sama dan mungkin di karenakan memiliki anggaran yang jauh lebih kecil.

2. Silent Hill

Silent Hill

Berdasarkan seri populer video game survival horor, Silent Hill mengikuti karakter Rose (Radha Mitchell), yang membawa putri angkatnya ke kota misterius Silent Hill untuk menemukan kebenaran tentang latar belakangnya.

Dengan sutradara film Prancis Christophe Gans dan Roger Avary berkolaborasi dalam naskahnya. Silent Hill tampaknya menjadi film horor video game pertama dengan peluang mendapat pujian kritis. Meskipun ada banyak hal dalam film yang benar-benar mengadaptasi suasana permainan, tapi itu dikatakan memiliki durasi yang lama. Keputusan untuk membalik gender karakter Harry Silent Hill menjadi Rose juga dipertanyakan, mengingat betapa ikoniknya Harry dari waktu ke waktu.

Silent Hill kembali di adaptasi pada tahun 2012 dari video game ketiga dalam seri, Silent Hill: Revelation yang berlangsung enam tahun setelah peristiwa film pertama dan juga dirilis enam tahun setelah film pertama. Plotnya melibatkan putri Rose (Adelaide Clemens) yang dipanggil kembali ke kota Silent Hill pada hari ulang tahunnya yang ke- 18.

Rilisan film 3D berusaha untuk lebih meyakinkan dalam berinteraksi dengan penonton, tetapi masih merupakan pengganti yang buruk untuk bermain game. Meskipun anggaran hanya setengah dari film aslinya, ada beberapa momen cemerlang di Silent Hill: Revelation, termasuk monster yang dibuat untuk film tersebut.

1. Resident Evil

Resident Evil Film Adaptasi Game Horor

Film The Resident Evil didasari dari seri video game Jepang terkenal dengan genre action/horor-nya. Awalnya George A. Romero dipekerjakan untuk menulis dan mengarahkan adaptasi pertama Resident Evil. Tetapi naskahnya akhirnya ditolak, dan Paul WS Anderson dipekerjakan oleh Sony Pictures. Anderson mengawasi seluruh seri sebagai produser dan kecuali dua entri dalam franchise film.

Ada enam entri dalam seri ini, semuanya mengikuti karakter original Alice (Milla Jovovich), seorang agen rahasia yang berusaha menjatuhkan Umbrella Corporation karena menyebabkan kiamat zombie. Setiap film Resident Evil dapat diberi peringkat yang berbeda, tergantung pada pentingnya kesetiaan pada permainan. Film tampaknya mengambil lebih banyak inspirasi dari desain makhluk daripada plot gamenya.

Walaupun seri mengambil kebebasan kreatif, film Anderson menangkap setiap elemen kunci yang membuat permainan sukses. Seiring dengan kengerian dari berbagai monster, seringkali ada misteri di tengah film. Hal ini yang membuat franchise tetap berjalan dan tetap menghasilkan pundi-pundi.